Sabtu, 13 Juni 2015

Seven Drama

Gagal Panen
Tema: Pelajaran
Banyak: minimum 4 orang, sisanya bisa menjadi warga kampung

Di suatu tempat yang gersang, ada sebuah perkampungan. Agus adalah kepala kampung perkampungan itu. Di bawah pimpinan agus, rakyat sejahtera sebab semua orang bekerja sama, yaitu menanam padi. Sehingga hampir semua orang di kampung tersebut adalah pertani.

Mereka bekerja dengan keras setiap harinya demi hasil yang bagus.

*di ladang*
Agus: Ayo kawan kita bersama, menanam jagung di kebun kita!
Tejo: Tapi pak kita menanam padi.
Agus: Hush! Biarlah, toh, sama saja!
Wandi: Beda pak, ini bukan kebun tapi ladang.
Agus: Hushssh! Kalian ini memang kepala batu!

naskah drama ini ditulis oleh sevendrama.blogspot.com

Hingga suatu hari, saat-saat mendekati musim panen, rakyat berpesta dengan sisa uang mereka. Padahal panen pun belum. Biasanya tidak seperti ini sebab padi kali ini terlihat subur dan banyak.

*di balai kampung*
Agus: Ayo, makan semua jamuan kita! Dari kita untuk kita!
Tejo: Pesta ini ide yang amat bagus! Besok pasti kita akan panen besar!!
Jono: Benar! Panen kali ini berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya.
Hamid: Hey kalian. Sebenarnya aku tidak mau mengikuti pesta pora ini. Namun tidak satu pun dari kita yang tahu apa yang akan terjadi keesokan hari.
Agus: Apa maksudmu Hamid? Kita PASTI, PASTI akan panen besok!!
Hamid: Baiklah, tapi ingat Tuhan maha kuasa!

Hari esok pun tiba. Dari subuh seluruh rakyat termasuk Hamid berangkat ke ladang untuk panen. Menurut Agus ini akan lama karena jumlahnya sangat banyak.

Namun betapa kecewanya mereka. Lemaslah lutut mereka. Tidak ada padi, tidak ada panen. Yang ada hanyalah tanah gersang. Padi-padi mereka yang telah matang baru saja diterjang badai, secara tiba-tiba, tiada yang tahu. Pingsanlah si Agus. Uang mereka habis, persediaan mereka habis, hanya untuk pesta pora seharis sebelum panen. Maka setelah itu entah bagaimana nasib mereka.

Begitulah, kita, manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di waktu kemudian, bahkan sedetik kemudian. Hanya Tuhanlah  yang tahu.

Jumat, 12 Juni 2015

Seven Drama

Tangan Kenan
Tema: Pelajaran

Namaku Agus. Aku memiliki seorang anak lucu bernama Kenan, usianya baru empat tahun. Kenan anak yang rajin. Meskipun belum sekolah ia sudah pandai menabung. Uang yang ia tabung adalah uang jajannya. Sehingga bisa dibilang ia sangat berbeda dari yang lain, di mana biasanya anak seusia Kenan selalu menghabiskan uang jajannya.

Suatu sabtu aku libur kerja. Aku menikmati hari-hari dengan santai. Tiba-tiba Kenan datang berlarian dari luar rumah. Dengan cepat ia mengambil celengan toplesnya, hendak mengambil uang. Tangannya berhasil masuk, namun saat mengambil segenggam uang tangannya tersangkut karena kini tangannya itu lebih besar dari mulut toples. Kenan mulai bingung dan menangis, aku menghampirinya.

Aku: Kau baik-baik saja Kenan?
Kenan: Ini tangan Kenan gak mau keluar!
Aku: Sepertinya tanganmu tersangkut.
Kenan: Aku mau mengambil uang, Pa. Kenan mau beli sesuatu.
Aku: Dengarkan Bapak, Kenan. Tanganmu itu ibarat hidup kita. Kita tidak bisa serakah dengan mengambil rezeki kita begitu saja. Kalau pun toh, itu rezeki kita tidak kemana. Jadi ambillah rezeki tersebut sedikit-sedikit!

Kenan yang masih kecil tentu saja tidak mengerti. Mendengar pun mungkin samar-samar. Sehingga ia masih berusaha mengeluarkan tangannya itu dengan segenggam uang receh. Aku lalu kembali bersantai. Tiba-tiba aku melihat Kenan berhasil mengeluarkan SEMUA uangnya!

Aku: Bagaimana bisa kau mengeluarkan seluruh uang itu?
Kenan: Kenan balik toplesnya.

Luar biasa aku mendengarnya. Ada saja idenya yang seperti itu.

Begitulah, peristiwa "Tangan Kenan" tadi dengan tepat mengibaratkan hidup. Memang perlu untuk mengambil sedikit-demi-sedikit dari rezeki kita, namun bagaimana jika kita membutuhkan uang dalam jumlah banyak di waktu yang sangat singkat? Maka perlu jalan lain yang lebih inovatif.


*Cerita di atas saya ambil amanatnya dari buku "Guru Monyet" karya Astvat Ereta*
*Kalian boleh mengubah isi cerita tanpa menghapus amanatnya*